Beranda Media Pelibatan Perempuan dalam Program Pengelolaaan Sumber Daya Alam
Pelibatan Perempuan dalam Program Pengelolaaan Sumber Daya Alam
Hutan merupakan bagian dari keseharian Masyarakat Adat Papua.  Setiap hari, baik laki-laki dan perempuan, tua dan muda berinteraksi dengan hutan.  Hutan bukan saja sumber penghidupan, tetapi hutan itu sendiri adalah kehidupan.  Jika hutan dirusak, maka kehidupan Masyarakat Adat Papua juga ikut rusak.  Hanya saja, hutan Papua juga menyimpan banyak kekayaan yang menarik minat berbagai pihak.  Mereka ingin menguasai dan mengeksploitasi suberdaya yang terkandung di dalamnya.
Generasi muda Papua menyadari daya tarik hutan mereka, dan untuk itu mereka harus bersatu untuk menjaga dan melindungi hutan mereka.  Dalam wadah organisasi, Bentara Papua, aktivis muda tersebut berkomitmen untuk menjaga hutan mereka, memajukan masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, dan menjaga keberlangsungan berbagai makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.   
Berbagai program pengelolaaan sumber daya alam telah dijalankan oleh Bentara.  Dalam sebuah pertemuan refleksi, Bentara menyadari ada satu elemen penting yang hilang dari program mereka, yaitu elemen mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, padahal laki-laki dan perempuan sama-sama berinteraksi dengan alam.  Perempuan, sebagaimana halnya laki-laki ikut menjaga alam.  Bahkan tak jarang, perempuan lebih peduli terhadap kelestarian alam.
Perempuan masyarakat adat merupakan penyedia utama pangan keluarga.  Namun hal ini tidak menjadi masalah bagi perempuan karena hutan telah menyediakan bahan-bahan yang mereka butuhkan.  Mereka memanen sagu, memperoleh sayuran, buah-buahan dan juga protein hewani dari hutan.  Hal ini menjadikan hutan menjadi pusat kehidupan perempuan, maka oleh karena itu perempuanlah yang paling merasakan dampak jika terjadi kerusakan hutan, ataupun pengalihan fungsi hutan.   Namun terlepas dari fungsi penting perempuan, berbagai kegiatan program pengelolaaan sumber daya alam, masih belum melibatkan perempuan sebagaimana halnya laki-laki. 
Menyadari kekurangan ini, Bentara menindaklanjuti dengan penyelenggaraan pelatihan untuk membangun kesadaran gender pengurus, staf, dan juga relawan Bentara.  Bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan ini adalah Rini Hanifa, yang memiliki pengalaman pada  kerja-kerja pengarusutamaan gender dalam pengelolaan sumberdaya alam. Pada pelatihan ini peserta diperkenalkan dengan beberapa alat analisis gender seperti Hardvard dan Moser.  Peserta juga berlatih menggunakan berbagai alat analisis gender sehingga membantu peserta dalam memahami situasi gender di lokasi dimana mereka bekerja.   Di hari terakhir pelatihan, peserta berlatih untuk merumuskan strategi pengarusutamaan gender pada program pengelolaaan sumber daya alam.  Pelatihan  gender diselenggarakan secara partisipatif dengan dipandu oleh fasilitator ahli selama tiga hari, yaitu dari tanggal 11-13 Desember di Kantor Bentara, Kota Manokwari, Papua Barat. 
Peserta pelatihan terlibat aktif dalam berbagai diskusi.  Salah satunya adalah Novi. Novi yang merupakan sarjana kehutanan dari Universitas Negeri Papua, memiliki keprihatinan dengan beban ganda yang dialami perempuan. Perempuan memiliki banyak tugas dan tanggung jawab, yaitu perempuan sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, sebagai koki, sebagai cleaning service, sebagai manajer keuangan rumah tangga, bahkan juga sebagai pencari nafkah. Pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan bukanlah pekerjaan yang mudah, sebagai contoh, sebagai ibu, perempuan bertanggungjawab mendidik anaknya dan menanamkan nilai-nilai yang kelak akan membantu anaknya menjadi sosok yang sukses ketika tumbuh dewasa.  Sebagai istri, perempuan melayani dan mengutamakan kebutuhan suami, dan tak jarang mengabaikan kebutuhan mereka sendiri.  Hanya saja, berbagai peran penting perempuan tersebut sering diabaikan, tidak dianggap dan tidak diapresiasi.    
Sehubungan dengan interaksi perempuan dengan alam, Novi mengamati bahwa perempuan hanya mengambil seperlunya dari apa yang mereka butuh kan, tidak ada niat untuk mengeksploitasi hutan atau mengambil sumber daya secara berlebihan. Perempuan memiliki kesadaran bahwa jika mereka mengambil hasil hutan tidak secara berlebihan, pangan, dan kekayaan hutan lainnya akan terus ada untuk mereka.  Peran perempuan dalam merawat hutan, sebagai mana peran-peran perempuan lainnya, sering tidak dianggap penting, sehingga dalam berbagai kegiatan perencanaan dan pengambil keputusan perempuan tidak dilibatkan.   
Melalui beberapa latihan menggunakan alat analisis gender peserta pelatihan lainnya mampu untuk melihat masalah gender secara lebih mendalam. Bahkan, beberapa kelompok, mampu mengenali masalah gender, yang sebelumnya tidak mereka anggap sebagai sebuah masalah, seperti bagaimana jam kerja perempuan lebih panjang dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh perempuan lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki.   Pelatihan dilakukan secara partisipatif dengan menggali pengetahuan dan pengalaman yang ada di peserta, pemutaran film, diskusi dan tanya jawab, setiap peserta terlibat aktif dalam pelatihan. 
Peserta sangat meng-apreasi pelatihan ini.  Salah seorang peserta mengatakan kalau selama ini ia meyakini bahwa yang pantas menjadi pemimpin adalah laki-laki hal ini dikarenakan semenjak kecil dunia yang ia kenal adalah laki-laki sebagai pengambil keputusan, namun setelah mengikuti pelatihan, ia menyadari bahwa pendapat perempuan juga berharga dan perempuan juga bisa menjadi seorang pemimpin sebagaimana halnya laki-laki.  Peserta lainnya mengatakan kalau sebelumnya ia memiliki anggapan negatif mendengar kata gender, namun setelah mengikuti pelatihan, ia memiliki perspektif baru, bahwa berbicara mengenai gender, tidak hanya berbicara mengenai perempuan, namun berbicara mengenai perempuan dan laki-laki, yaitu bagaimana laki-laki dan perempuan menjalankan berbagai peran secara adil dan setara.
Peserta berharap pelatihan yang sama juga dilakukan di lokasi program mereka.  Latihan menggunakan alat analisis gender secara bersama-sama dapat membantu membangun kesadaran gender masyarakat kampung laki-laki dan perempuan.  Tanpa kesadaran gender, kegiatan terkait dengan pengarusutamaan gender dalam program pengelolaaan sumber daya alam akan sulit diterima oleh masyarakat.  Peserta berjanji kalau ilmu yang mereka pelajari dari pelatihan akan diterapkan dalam keseharian mereka, dimulai dari tingkat rumah tangga.  Pelatihan ditutup dengan membagikan hadiah kepada tiga peserta yang paling aktif selama tiga hari pelatihan, yaitu Donald, Lamberti, dan Forest.