Beranda Media Menemukan Emas Hitam Di Anggi
Menemukan Emas Hitam Di Anggi
Pagi itu masih gelap. Dingin menusuk meski sudah menggunakan jaket tebal ditambah selimut.Tampak dilayar smartphon saya suhu di 15 derajat . Meski saya yakin, suhu ini masih normal bagi warga subtropis tapi buat kami yang terbiasa hidup di daerah pesisir tropi sangat menyiksa. Belum lagi pagi itu angin ikut-kutan bertiup menambah rasa dinginnya belipat ganda. Jika saja ki tidak sedang dalam sebuah 'misi' kami tidak akan mu bergerak sedikitpun dari tempat tidur kami.

Mobil double gardan sudah dipanskan sopir sejak 15 lalu. Sembari terbirit-birit menahan dingin membawa peralatan seadanya kami memasuki mobil dan segera bergegas menuju ke puncak bukit. sejenak rasa dingin terlupakan oleh pemandangan diluar kaca mobil yang spektakuler. sebuah danau berada sepanjang bibir jalan sebelum menanjak . Dudusan gunung menjulang dengan ditumbuhi tanaman purba kas dataran tinggi menghias danau cantik itu. Yah kami berada di dataran tinggi Anggi.  Tepat di tepi danau Anggi. Tepatnya Anggi Giji. sebuah danau di Papua barat yang berada di ketinggian 1950  meter dari permukaan air laut. Terdapat dua danau di Angii yang hanya dipisahkan oleh satu gunung. Danau Anggi Giji dan danau Anggi Gida oleh warga lokal dikenal dengan danau laki-laki dan danau perempuan.

Pagi itu kami bernafsu ingin melihat mata hari terbit dari ketinggian gunung yang memisahkan kedua danau tersebut. Sayang gerimis dan angin pagi itu membuat kabut tak kunjung turun dan menutupi langi hingga siang hari. Buakn matahari terbit yang kami dapat melainkan rasa dingin yang kian menusuk tulang. Tapi tak ada kata rugi dalam perjalanan itu. pemandangan indah dengan sudut pandang 360 derajat tetap menjadi garansi buat kami.

Siang hari kami mengelilingi danau Perempuan. Bertemu dan bercakap-cakap dengan beberapa warga sambil melihat kebiasaan warga lokal yang hampir semuanya berprofesi sebagai petani. Kebun mereka tidak jauh. bahkan pekarangna rumah mereka adalah kebun mereka. Ada wortel, daun bawang, kentang, kubi sawi serta merkisa, dan stoberi . Sejak ribuan tahun lalu, mereka sudah mengenal bercocok tanam. Begitu lah mereka mendapatkan makanan. Wajar saja karena topografi yang sulit ditambah persediaan makan dialam berbeda jauh dengan kondisi di dataran rendah. Tidak ada hewan liar seperti rusa atau babi yang bisa di buruh. Apalagi sagu. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah menam.

Diselah-selah perjalan kami mengelilingi beberapa kampung yang umumnya berada di tepi danau kami menmukan beberapa "emas hitam". Emas hitam?  bukan emas betulan tapi pohon kopi yang sedang berbuah ranum. Pohon kopi yang tampak tidak terawat tapi berbuah lebat . Cerry kopi yang sudah merah itu sangat mengoda. Usai mengobrol kami akhirnya mendapatkan ijin untuk memanen kopi tersebut.

Setidaknya ada beberapa kampung di Anggi yang memiliki tanaman kopi yang sudah ditanam puluhan tahun silam. Menurut mereka, orang Belandalah yang membawa kopi itu datang. Karena minimmnya pemahaman warga tentang perlakuan kopi, tidak adanya pasar. Pohon kopi akhirnya titerlantarkan bahkan ditebang. Obrolan sore hingga pagi pun berlanjut soal kopi dan pertanian lainnya. Bahkan dalam perjalanan kami kembali ke Manokwari, kami masih memanen beberapa pohon kopi untuk kami bawa pulang sembari memberikan semangat kepada warga agar kembali mau menanan dan merawat kopi.

Di Papua sendiri hampir setiap dataran tinggi memiliki kopi. Anggi, Dogiay, Timika, Wamena hingga Oksibil adalah daerah yang suhu dan ketinggiannya sangat cocok utuk tanaman yang harga dan pamornya kian meningkat. Lihat saja pertumbuhan kedai-kedai kopi di kota-kota. tidak hanya kota besar, kota kecil pun mulai ramai dengan kedai kopi. Menariknya bukan kopi saset atau kopi asalan yang disajikan melainkan kopi premium. Permintaan akan pasokan kopi juga makin meningkat dan sudah semestinya hukum pasar berlaku disana.

Akses jalan menuju ke Anggi sudah relatif baik. Transportasipun sudah ada . Warga biasanya membawa hasil kebun mereka di pasar-pasar di Manaokwari semestinya kopi pun bisa mengambil perannya sebagai sebuah emas di pertanian Anggi