Beranda Media From Illegal Logging to Community Forestry

Perjalanan dari Sorong ke Sorong Selatan membutuhkan waktu sekitar 3 jam, sementara dari Sorong Selatan ke Kampung Mangroholo memakan waktu tambahan sekitar 1 jam. Meski pemandangan indah, dengan semburat matahari terbit yang muncul dari balik bukit, tetapi lanskap berbukit dan jalanan berkelok ditambah infrastruktur yang belum memadai membuat isi perut dibolak-balik sedimikian rupa.

Bukan rahasia kalau pembangunan Jawa-sentris menyebabkan Papua Barat bertumbuh lebih lambat dari pada provinsi-provinsi lain di barat Indonesia. Mungkin untuk mengejar ketertinggalan itulah alat berat mudah sekali ditemui dalam perjalanan menuju Sorong Selatan. Infrastruktur dibangun, investasi diundang.

Mengundang investasi sering kali dipandang sebagai undangan terhadap dana dan daging segar. Bukan hanya mendatangkan uang, tetapi juga mendatangkan pekerja-pekerja dari luar pulau, dengan janji meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal.

Tak sejahterakah penduduk lokal? Definisi sejahtera begaimana yang harus dipakai? Dua pertanyaan ini sering kali lupa disertakan dalam pengembangan investasi. Tak hanya di timur jauh, tetapi juga di daerah-daerah dekat Ibu Kota. Pemerintah lupa kalau investasi yang baik adalah investasi yang lestari, membangun berdampingan dengan lingkungan, alih-alih merusak planet bumi, satu-satunya yang kita punya.

Investasi, dalam banyak kesempatan, melulu didekatkan dengan konsep eksplorasi dan eksploitasi. Seperti konsep transmigrasi, penduduk dipindah-pindahkan untuk membuka hutan dan menggarap lahan. Penduduk dan pekerja datangan ini tidak memiliki kedekatan dengan air dan tanah yang mereka kultivasi, sebab itu mudah saja menjual lahan ketika ada pemodal taipan yang ingin membuka kebun homogen berskala besar. Mereka tak merasa kehilangan apapun.

Padahal bagi penduduk asli, tanah adalah buku suci yang harus dipertahankan untuk anak cucu. Setidaknya begitu ujar Simson Seremere, anggota Dewan Adat dari Kampung Mangroholo.

Kampung Mangroholo terletak di Distrik Saifi, Sorong Selatan. Wilayah kecil yang subur lagi landai yang diapit dua sungai. Bagi investor kelapa sawit, wilayah ini sangat cocok untuk disulap menjadi ribuan hektar kebun. Selain karena kesuburan tanahnya, jalan yang baru dibuka dapat membantu operasional dan distribusi kebun. Apalagi Saifi diapit Sungai Seremuk dan Sungai Kaibus yang dapat menjadi alternatif sarana transportasi.

Namun, tanah adalah buku suci yang harus dipertahankan untuk anak cucu. Masyarakat Kampung Mangroholo menolak investasi kelapa sawit di wilayahnya, begitu juga masyarakat di Desa Sira.

Simson berkisah perjuangan Dewan Adat menolak konversi terhadap hutan di Kampung Mangroholo dan Kampung Sira memakan waktu setidaknya 16 tahun. Menurutnya yang paling menyita dalam proses tersebut adalah pemetaan. Sejak pemetaan pertama pada 1998, pemetaan kedua baru dilakukan pada 2007, setelah Greenpeace melakukan penilaian (assessment) independen.

Charles Tawaru, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, bercerita: dari banyak skema yang dieprhitungkan, sejak awal yang paling diminati adalah model-model ecoforestry, dengan menekankan pada pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Baru kemudian pada 2009 Greenpeace bersama Belantara Papua yang melakukan masyarakat, merumuskan model Hutan Desa untuk menyelamatkan ‘buku suci’ Mangroholo dan Sira.

Skema Hutan Desa bukan hanya mampu menyelamatkan lahan seluas 1.695 hektar di Kampung Mangroholo dan 1.850 hektar di Kampung Sira, tetapi juga menunjukan bahwa masyarakat adat mampu mengelola hutan adat hingga bermanfaat lebih besar bagi penduduk dis ekitar hutan. Skema ini juga dapat dijadikan model pembangunan kehutanan lestari yang dapat dinikmati hingga bergenerasi mendatang.

Kini Simson bisa berbangga hati, tak hanya berhasil mengaggalkan pemberian izin pembukaan lahan sawit pada 2009, kini wilayah tersebut bahkan telah mendapatkan Surat Keputusan Hutan Desa dari Kementerian. Satu langkah lebih dekat menuju Hak Pengelolaan Hutan Desa yang dapat diterbitakn oleh Gubernur dan berlaku selama 35 tahun.

Kampung Mangroholo yang terletak di lembah dan Kampung Sira di bagian perbukitan adalah bagian dari lansekap adat Knasaimos, selain menjadi rumah bagi Merbau, Nyatoh, Damar dan Gaharu, juga merupakan rumah bagi beragam jenis anggrek serta fauna langka seperti kura-kura air tawar dan landak. Lokasi ini juga memiliki lahan gambut dengan ketebalan rendah.

Meski terlihat rimbun, hutan Papua mengalami ancaman besar setelah Pemerintah mengidentifikasi hampir 9 juta hektar hutan Papua untuk dikonversi menjadi pengembangan insutri skala besar. Sementara 2 juta hektar lain telah dialokasikan menjadi wilayah pengembangan pangan dan energi. Setelah kehancuran besar di Sumatera dan Kalimantan, Papua adalah satu-satunya harapan bagi kelestarian Hutan Surgawi (Paradise Forest).

Karena dengan merawat tanah, kita bisa menorehkan sejarah perlindungan Hutan Surgawi yang kini menuju punah.

http://m.greenpeace.org/seasia/id/high/blog/merawat-tanah-menorehkan-sejarah/blog/51381/