Beranda Media BENTARA PAPUA GELAR PAMERAN PRODUK LOKAL PROVINSI PAPUA BARAT
BENTARA PAPUA GELAR PAMERAN PRODUK LOKAL PROVINSI PAPUA BARAT
Manokwari, 09 Oktober 2021 - Dalam rangka menyambut Hari Pangan Nasional 16 Oktober 2016, Bentara Papua menggela Pameran Produk Lokal dengan tema ”Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) & Produk Ramah Lingkungan Berbasis Komunitas Adat ”. Pameran ini akan berlangsung selama 8 hari mulai 9-16 Oktober 2021.

Pameran ini menampilkan produk-produk dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat yang berasal dari masyarakat adat, kelompok usaha, binaan Kesatuan Pengelola Hutan (KPH), dan binaan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS). Kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan produk-produk HHBK dan produk ramah lingkungan lainnya baik pangan maupun non pangan yang diproduksi oleh masyarakat adat dari berbagai wilayah di Papua Barat. Produk yang ditampilkan bervariasi mulai dari tepung sagu dan olahannya, aneka olahan kayu lawang, olahan sarang semut, olahan kayu akway, olahan kelapa dan kopi, hingga aneka karya seni berupa miniatur rumah kaki seribu hingga aneka noken berbahan dasar kulit kayu maupun pandan.

Dipaparkan oleh penanggungjawab kegiatan, Duketini Marlina Youwei, bahwasanya selama ini Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan produk-produk berkelanjutan termasuk pangan lokal masih dianggap belum memberikan dukungan signifikan untuk menopang penghidupan berkelanjutan terutama ketika kebutuhan uang tunai meningkat. Dalam kondisi ini, tidak jarang masyarakat adat memberikan akses kepada pemodal besar yang berujung pada hilangnya akses dan hak masyarakat adat pada sumber daya hutan.

”Upaya menciptakan kegiatan produktif untuk pengelolaan hutan masih sangat terbatas. Masyarakat adat perlu mendapatkan manfaat ekonomi nyata dari hutan mereka. Komoditi adat yang melimpah harus dicarikan jalan keluar untuk pengelolaan dan pemasaran yang berkelanjutan. Membangun pusat pengolahan komoditi lokal dan jaringan pasar yang langsung tanpa rantai pasok yang panjang menjadi penting untuk membangun kepercayaan masyarakat adat bahwa hutan memberikan manfaat langsung dan dapat diharapkan untuk menopang penghidupan berkelanjutan tanpa harus ‘diserahkan’ ke pihak lain,” lanjutnya.

Sejak Provinsi Papua Barat ditetapkan sebagai Provinsi Berkelanjutan maka upaya meningkatkan usaha berkelanjutan berbasis adat dari hulu hingga hilir harus terus didorong. Diketahui bahwa beberapa lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah telah berusaha mendampingi komunitas-komunitas adat yang menetap di dalam dan sekitar hutan untuk meghasilkan produk-produk berkelanjutan.

”Permasalahannya adalah belum banyak informasi yang diketahui oleh khalayak luas terkait keberadaan komunitas adat dan produk-produk yang mereka hasilkan, padahal potensinya sangat besar.” tutur Wahyudi Manajer Komoditi Berkelanjutan Bentara Papua.

Terkait dengan isu pangan lebih jauh Wahyudi menyebutkan bahwa ”Proyeksi FAO pada tahun 2050 pangan global perlu ditingkatkan sebesar 60%. Dengan luas hutan sagu terbesar di dunia produk sagu dari Tanah Papua sebenarnya dapat memberikan makan dunia dan Papua tidak kekurangan pangan. Sagu dalam satu hektar dapat menghasilkan 20-40 ton pati, jika dijumlahkan dengan luas areal sagu sebesar 5 juta Ha akan menghasilkan 100-200 juta ton. Sagu menghasilkan  30 juta ton pati hanya dalam 1 juta ha. Kebun sagu dengan luasan 1 juta hektar memberi makan 200 juta jiwa, jadi dalam 5 juta hektar sagu dapat memberi makan  1 milyar jiwa. Sagu dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan di dunia yang berjumlah 868 juta jiwa (FAO, . Oleh sebab itu produk sagu dan turunannya yang dihasilkan masyarakat adat sebaiknya menjadi prioritas pemerintah pusat dalam membangun ketahanan dan kedaulatan pangan di Papua dan juga memberi manfaat ekonomi kepada masyarakat adat”.

Dihelatnya pameran ini diharapkan dapat menjadi suatu media untuk memperkenalkan produk-produk berkelanjutan dari masyarakat adat agar dapat terhubung dengan pasar, pemerintah, dan masyarakat umum.

”Ayo banjiri Tanah Papua dengan produk-produk asli dari Tanah Papua”, tutup Duke dengan bersemangat.

Gotong royong:
Perkumpulan Bentara Papua Manokwari, KPHP Unit II Sorong, KPHP Unit V Sorong Selatan, KPHL Unit II Sorong, Perkumpulan Mnukwar Papua, LSM Conservation International (CI), Yayasan Aan Ambyan Raja Ampat, Koperasi Bentang Karya Lestar (BEKAL) Manokwari, Inisiatif Berbasis Masyarakat Kepulauan Fam Raja Ampat, Kelomang Raja Ampat, Yayasan Mange Mange Papua Raja Ampat, Wadowun Beberin Kampung Aisandami Teluk Wondama, Kelompok Tani Hutan Klasaman Kota Sorong, Sabun Pala Fakfak, Tepung Sagu & Kue Sagu Mangsir Sorong Selatan, Bapak Thomas Manobui, Kelompok pengrajin Noken Kampung Uriemi, Koperasi Kna Mandiri Sorong Selatan, Sanggar Sasebi Manokwari, Papua Agriculture Class Manokwari, Abun Coconut Oil Tambrauw, Koperasi Wana Lestari Sorong Selatan, Kelompok Tani Hutan Matoa Kota Sorong, Domi Art Papua Manokwari, Komunitas Perempuan Kelomang FakFak, KTM UMK Qtorang Manokwari, Noken Kreasi Papua Manokwari, Tekno Organik Papua Manokwari, Bengkel Budaya Kamam Mnukwar Manokwari.