Beranda Media Orang Arfak Tidak Membuat Rumah Kaki Seribu dari Sawit
Orang Arfak Tidak Membuat Rumah Kaki Seribu dari Sawit
“Pernyataan Jurkam Greenpeace Papua diplesetkan Nunik dari ANJ”

Manokwari(19/02/2020),- Nunik Maharani Maulana, Direktur PT Permata Putera Mandiri (PPM) dan PT Putera Manunggal Perkasa (PMP), dua unit usaha Austindo Nusantara Jaya (ANJ) yang beroperasi di Sorong Selatan, secara terang-terangan memplesetkan pernyataan Juru Kampanye Greenpeace Indonesia untuk Papua, Nico Wamafma,dalam lokakarya Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan dan Sosialisasi Inpres No.6 Tahun 2019, di Manokwari, Rabu(19/02/2020).
Saat diberikan kesempatan untuk menjelaskan kerja-kerja ANJ di Sorong Selatan, Nunik mengaku senang dengan apa yang dikatakan Nico Wamafma dari Greenpeace. “Tadi saya senang sekali dengan pernyataan Pak Niko dari Greenpeace, setelah mengatakan kebun sawit itu bukan hutan, sawit adalah predator, sawit membawa konflik, tapi terakhir poinnya adalah sawit itu Oke, asal dikelola dengan baik dan tidak menghilangkan rantai hidup rakyat di Papua,” ujar Nunik.
Nah,lanjutnya lagi, ukuran-ukuran apa untuk poin yang ketiga ini, dan palm oil company seperti apa yang diharapkan?ukurannya apa? Karena menurutnya, Group ANJ yang beroperasi di Papua, ingin menjadi model, bahwa ini loh palm oil company yang memang cocok buat Papua.
“Sekarang bukan saatnya lagi mengatakan, kamu buruk, kita tidak menerima kamu di sini, tapi bagaimana kita berkolaborasi. Kembali lagi, faktanya kami ada di sini, kami beroperasi dengan legal, bagaimana kami bisa berbuat maksimal untuk kebaikan masyarakat Papua, demikian terima kasih,” tutupnya.
Menanggapi pernyataan ini, Nico Wamafma mengatakan itu bukan hal baru, apalagi ini panggungnya mereka. “ Ko dengar sendiri kan?apakah saya ada mengatakan sawit itu Oke?,” kata Nico sambil ketawa. Menurut Nico, apa yang dikatakan dirinya tadi, itu dari sudut pandang masyarakat. Kalau sikap Greenpeace itu jelas; menentang perluasan sawit di Indonesia, apalagi di Papua.
Berikut ini pernyataan Nico Wamafma pada sesi tanya jawab dalam lokakarya itu :
Kita bicara tentang sawit berkelanjutan, tapi pada saat yang sama, seperti sambutan Gubernur Papua Barat, yang sudah mengingatkan tentang  perjalanan dari komitmen Pemerintah dan masyarakat di Tanah Papua pada Oktober 2018 (Deklarasi Manokwari). Kesepakatan Manokwari itu seharusnya bisa didudukan pula dalam konsep keberlanjutan ini.
Ketika kita bicara tentang sawit berkelanjutan,kedudukannya terhadap komitmen manokwari itu seperti apa? Apakah keberlanjutan ini akan memberi kepastian bahwa komitmen Manokwari akan menjadi sebuah kenyataan ataukah hanya kesepakatan di atas kertas yang ditandatangani oleh kedua Gubernur di Tanah Papua.
Ketika bicara tentang sawit berkelanjutan, saya ingin didudukan pada tiga pikiran sebagai berikut :
Pertama, kami Greenpeace Indonesia sudah berkomitmen kalau bicara tentang kebun sawit, kebun sawit itu bukan hutan, sawit itu hutan palsu atau imitasi. Kebun sawit itu telah menghancurkan atau mengurangi luasan hutan alam. Itu ancaman. Sawit tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi hutan yang diberikan Tuhan di atas tanah Papua.
Sawit itu sama dengan predator. Dia menghabiskan air tapi juga merambah hutan alam dan menghancurkan tujuan negara yang baik, yaitu mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sawit dalam perjalanannya di Tanah Papua, adalah penyebab dari konflik sosial antara warga dan pemerintah, warga dan pihak perusahaan. Hubungan manusia dengan alam,livelihoodnya, kebudayaannya itu hilang. Bagi orang Papua, kehilangan hutan, itu kehilangan identitas. Karena praktek kehidupan orang Papua dalam semua suku terkait dengan hutan.
Orang Biak bisa buat perahu, itu karena ada hutan, orang arfak bisa buat rumah kaki seribu, itu karena hutan. Orang Arfak tidak membuat rumah kaki seribu dari sawit. Bagian ini yang penting untuk dilihat sebagai hal yang prinsip ketika bicara tentang sawit dan keberkelanjutannya, tapi juga tidak mengabaikan hubungan orang Papua dengan hutan.
Kalau itu didudukan dengan baik, saya pikir masyarakat bisa mendukung, jika kebijakan itu tidak menghancurkan rantai kehidupan dari orang Papua. Terima kasih.*)
Ditulis oleh Ab Yomo