• image alt
TENTANG KAMI
Menurut data terbaru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang tersampaikan di publik pada pertengahan 2016 laju kerusakan hutan pada kurun 2010 sampai 2015 menyebabkan hilangnya sekitar 648.000 hektar setiap tahunnya. Sumber lain menyebutkan bahwa laju kerusakan itu terus meningkat setiap tahunnya. Kini dikabarkan luas hutan Indonesia masih tersisa sekitar 124 juta hektar.
Lahan hutan primer terluas berada di Papua (32,36 juta hektar luasnya) atau lebih dari 80 persen dari total kawasan. Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar).
Hutan hujan tropis Indonesia berada di peringkat ketiga terluas setelah Brazil dan Kongo. Sebagian besar, atau 80 persen, keragaman hayati berada di hutan. Namun laju kerusakannya juga dapat dikatakan tercepat diantara negara-negara yang masih memiliki sisa hutan dunia.
Selain itu, menurut Mighty Papua menjadi tempat bagi 50 persen keragaman hayati di Indonesia. Di Papua ada sekitar 15.000 – 20.000 tumbuhan (55 persen endemik), 602 burung (52 persen endemik), dan 223 reptil (35 persen endemik). Selain itu, spesies endemik lainnya termasuk kangguru pohon, burung surga, ikan pelangi, kupu-kupu sayap burung, beragam anggrek dan ribuan spesies flora dan fauna lainnya.
Pada 2010, populasi di Papua sekitar 3,6 juta orang. Papua memiliki pertumbuhan populasi terbesar dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia karena tingginya angka kelahiran dan transmigrasi. Papua juga memiliki sekitar 312 suku berbeda termasuk suku-suku terpencil. Situasi acapkali diwarnai ketegangan di kawasan yang memiliki kegiatan-kegiatan baru seperti penanaman kelapa sawit karena kehadiran militer. Kekerasan dan represi yang tak pandang bulu oleh militer terhadap terduga anggota OPM (Organisasi Papua Merdeka) di Papua sangat terkenal, dan bahkan sering menyebabkan kepanikan yang meluas di desa-desa.
Deforestasi dan degradasi hutan dituding menjadi penyebab kerusakan hutan di Indonesia. Deforestasi telah mengakibatkan kondisi dimana penyerapan emisi karbon berkurang jauh. Implikasinya, keadaan ini meningkatkan ancaman pemanasan global yang berasal dari gas rumah kaca. Deforestasi dan degradasi hutan terlihat dari praktik-praktik pembakaran hutan, penguasaan lahan, tata perizinan yang tumpang tindih, kebakaran hutan, peladangan berpindah, pembalakan liar, perdagangan hasil hutan ilegal, serta masalah-masalah lain yang terkait. Masalah hutan sangat kompleks. Demikian pula upaya yang harus dilakukan untuk melestarikan dan menjaga keutuhan lingkungan pun juga kompleks.
Berangkat dari keprihatinan dan ancaman yang sedang terjadi, terutama di Papua dan Papua Barat, maka sekelompok anak muda tergerak untuk melakukan sesuatu. Ada 20 orang muda yang berkomitmen untuk menyelamatkan tanah Papua dari kehancuran lingkungan dan kehidupan sosialnya. Mereka membentuk sebuah organisasi nirlaba, Bentara Papua.
Orang muda tersebut terdiri dari para aktifis yang memiliki pengalaman panjang dalam kerja sosial dan lingkungan. Mereka beragam latar belakangnya. Namun sebagian besar mereka adalah lulusan dari perguruan tinggi di Papua dengan beragam disiplin ilmu. Ada yang berasal dari ilmu perikanan dan kelautan, sosial ekonomi dan komunikasi. Mereka juga telah melakukan advokasi sejak 2005 dan terus mengembangkan keanggotaan relawan yang akan mendukung Bentara Papua.
Secara hukum, Bentara Papua telah terdaftar di hadapan notaris di Manokwari, Papua Barat pada 13 April 2012. Para aktifis dan relawan Bentara Papua melakukan pendampingan masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran dini dalam hal isu lingkungan. Bentara berbasis di Manokwari yang memiliki apa yang disebut PaCE (Papua Center of Excellence). Tujuannya antara lain untuk mencetak pemimpin-pemimpin muda untuk pembangunan berkelanjutan di Papua.
Visi
Bentara Papua berkomitmen untuk menjadi agen perubahan terpercaya dan berpengaruh untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan secara adil dan berkelanjutan.
Misi
  1. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman publik mengenai perlindungan lingkungan untuk mendorong perubahan perilaku.
  2. Membangun dan memberdayakan kewirausahaan lokal untuk meningkatkan sumber penghidupan lokal.
  3. Mendorong dikukuhkannya kebijakan publik di tingkat lokal dan nasional untuk pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Bentara Papua juga bermitra dengan Kurabesi Nusantara, sebuah perusahan yang berkomitmen untuk mengembangkan produksi dan pemasaran produk masyarakat serta mengembangkan pariwisata hijau di Papua. Kurabesi Nusantara baru-baru ini juga membuat sebuah kapal Phinisi untuk inisiatif bisnis hijau di Papua. 
 
 


http://bentarapapua.org/page/about